Pengertian Lereng dan Longsoran

Setelah membaca artikel ini pembaca diharapkan mampu memahami pengertian lereng dan longsoran, sebab menjadi dasar pemahaman dalam penanganan longsor pada struktur jalan.

Apa itu lereng? Apa itu longsoran? Dua kata tersebut sering kita dengar melalui berita. Untuk itu, kita simak penjelasan tentang pengertian lereng dan pengertian longsoran di bawah ini.

Lereng

Lereng adalah pemukaan bumi/tanah yang membentuk sudut kemiringan tertentu dengan bidang horisontal. Lereng dapat terbentuk oleh proses alamiah (Lereng Alam) atau atas rekayasa manusia (Lereng Buatan).

Longsoran pada Lereng Alam merupakan fenomena pergerakan lereng yang cakupannya cukup luas dan mencakup daerah regional tertentu dan dapat diketahui cirinya dari bentuk yang ditunjukkan dalam peta Topografi dan Pengamatan terhadap Morfologinya seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Umumnya, bilamana terjadi pada lereng yang didominasi oleh material tanah, maka akan nampak ciri adanya bagian Mahkota Lereng (SCARP), nendatan pada bagian kaki (TOE), dan arah yang menimbulkan adanya nendatan (Axis of Rotation) pada peta Satelit.

Gambar 1 Longsoran Pada Lereng Alam
Gambar 1 Longsoran Pada Lereng Alam (Credit to Michael J. Crozier, ‘Landslides – Hill country, regolith and submarine landslides’, Te Ara – the Encyclopedia of New Zealand)

Dampak yang diakibatkan oleh longsoran alam adalah kerusakan bangunan, infrastruktur, bahkan korban jiwa seperti pada Gambar 2.

Gambar 2 Dampak Longsoran Alam di Banjarnegara
Gambar 2 Dampak Longsoran Alam di Banjarnegara (Credit to Merdeka)

Lereng buatan adalah didefinisikan sebagai lereng yang dibuat dalam rangka memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam pembangunan infrastruktur untuk kepentingan umum dan masyarakat. Lereng buatan dapat berupa Galian maupun timbunan seperti diperlihatkan pada Gambar 3.

Gambar 3 Investigasi Kondisi Tanah Dasar Untuk Perkerasan Jalan
Gambar 3 Investigasi Kondisi Tanah Dasar Untuk Perkerasan Jalan (Credit to Kementerian PUPR)

Pada Gambar 3, diperlihatkan bahwa infrastruktur jalan dan jembatan dilakukan dengan memenuhi kaidah persyaratan dari peraturan perundang-undangan dan persyaratan geometric, maka diperlukan jenis investigasi yang sesuai.

Pengelompokan terhadap lereng buatan yang berhubungan dengan tingkat stabilitasnya terhadap potensi longsoran dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Keruntuhan Lereng Galian mencakup Lereng di atas dan atau di bawah badan jalan, serta longsoran yang menimpa badan jalan itu sendiri.
  2. Keruntuhan Lereng Timbunan mencakup longsoran lereng dangkal dan lereng dalam. serta keruntuhan timbunan yang menimpa timbunan jalan, termasukjembatan.
  3. Keruntuhan Bangunan Penahan yaitu keruntuhan bangunan penahan yang dimaksudkan untuk menangani longsoran yang terjadi sesuai pada butir 1 dan 2.

Longsoran

Longsoran adalah pergerakan masa batuan, bahan rombakan dan tanah pada suatu lereng yang berpindah tempat karena grafitasi dan terganggunya keseimbangan gaya yang bekerja antara beban berat sendiri tanah / batuan dan kemampuannya dalam menahan beban (Cruden, 1991). Oleh karenanya, longsoran adalah pergerakan masa tanah/batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Longsoran dapat berupa longsoran lereng baik berupa lereng alam maupun lereng buatan yang direkayasa oleh manusia untuk mewujudkan bangunan infrastruktur, seperti jalan/jembatan, air (irigasi dan sanitasi) serta hunian (perumahan, pemukiman dan perkantoran).

Pada lereng perbukitan longsoran adalah suatu pergerakan massa tanah atau batuan yang terjadi karena berkurangnya nilai kekuatan geser dan diperlihatkan pada Gambar. Adapun longsoran tanah dan longsoran batuan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Longsoran tanah diakibatkan oleh penurunan kuat geser yang diakibatkan oleh naiknya tegangan air pori (pore pressure).
  • Longsoran batuan diakibatkan oleh berkurangnya kuat geser yang diakibatkan oleh ketidak- selarasan batuan (rock discontinuity pattern).
  • Longsoran kombinasi antara longsoran tanah dan batuan yang tergantung dari posisi keberadaannya, secara memanjang jalan dan secara stratifikasi perlapisan yang terbentuk.

Referensi:

    • Cruden, 1991, A Simple Definition of a Landslide, Bulletin of the International Association of Engineering Geology.