Stabilitas Lereng Terhadap Longsoran

Hal-hal yang perlu dipahami tentang stabilitas lereng terhadap longsoran (landslide) karena berhubungan dengan masalah penanganan longsoran jalan. Stabilitas lereng penting karena meningkatnya kejadian bencana longsor di Indonesia dari tahun ke tahun.

Longsoran (landslide) merupakan salah satu jenis bencana alam jika frekuensi kejadiannya sering terjadi dan skalanya besar serta mempunyai dampak sangat signifikan terhadap beberapa hal, misalnya:

  • Merusak bangunan fasilitas umum dan masyarakat (tempat peribadatan, sekolah, pasar dan sebagainya).
  • Merusak bangunan infrastruktur (jalan dan jembatan, kawasan permukiman dan sistim jaringan irigasi).
  • Menimbulkan korban jiwa serta materiel yang tidak sedikit.
  • Mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat seperti kegiatan usaha untuk kehidupan.
  • Memutus hubungan antara dua atau lebih wilayah sehingga menyebabkan suatu daerah terisolasi.

Kejadian longsor akan semakin meningkat tajam pada musim hujan di beberapa tempat di Indonesia yang mempunyai curah hujan yang tinggi sebagaimana dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel Data Jumlah Kejadian Bencana Longsor di Indonesia

Tahun Jumlah Kejadian Korban Jiwa Rumah Rusak (unit) Fasilitas (unit)
2015 1694
  • 276 Meninggal dan Hilang
  • 370 Luka-luka
  • 1.227.929 Terdampak dan Mengungsi
  • 5.217 Rusak Berat
  • 3.871 Rusak Sedang
  • 16.444 Rusak Ringan
  • 33 Fasilitas Kesehatan
  • 159 Fasilitas Peribadatan
  • 309 Fasilitas Pendidikan
2016 2306
  • 578 Meninggal dan Hilang
  • 2675 Luka-luka
  • 3.162.491 Terdampak dan Mengungsi
  • 9,029 Rusak Berat
  • 9.979 Rusak Sedang
  • 28.790 Rusak Ringan
  • 232 Fasilitas Kesehatan
  • 601 Fasilitas Peribadatan
  • 1.484 Fasilitas Pendidikan
2017 2.862
  • 378 Meninggal dan Hilang
  • 1.042 Luka-luka
  • 3.674.369 Terdampak dan Mengungsi
  • 10.452 Rusak Berat
  • 10.648 Rusak Sedang
  • 28.631 Rusak Ringan
  • 117 Fasilitas Kesehatan
  • 715 Fasilitas Peribadatan
  • 1.326 Fasilitas Pendidikan

Sumber: Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), update 16 September 2018

Faktor lain yang menjadi trigger atau pemicu longsoran adalah kondisi topografi dan morfologi yang mempunyai kemiringan lereng curam (>25%) dan didominasi oleh material kolovium dari lapukan berksi fulkanik tufaan yang mengandung mineral lempung andosol dan latosol memiliki sifat peka terhadap perubahan karakteristik properties, misalnya:

  • Mudah mengalami kejenuhan karena sifatnya yang higrokopis (menyerap air) serta akan berdampak pada berkurangnya kuat geser tanah dan mudah mengalami erosi.
  • Perubahan sifat karakterisk propertisnya akan dapat berkembang karena mengalami penjenuhan akibat curah hujan yang cukup tinggi yaitu lebih dari 1500 mm serta akibat mengalami proses oksidasi.
  • Perubahan karakteristik properties material di pegunungan pada daerah tropis dapat memicu terjadinya longsoran.

Lereng buatan dapat dibagi lagi menjadi dua tipe, yaitu lereng timbunan dan lereng galian. Sedangkan untuk lereng alam, maka pergerakan lereng dikelompokkan sebagai longsoran (landslide).

Pergerakan lereng dengan tipe keruntuhan lereng pada umumnya terjadi akibat kurang tepatnya perencanaan maupun pelaksanaan konstruksi lereng. Pergerakan lereng dengan tipe keruntuhan lereng umumnya sangat berkaitan dengan kondisi geologinya. Terkadang keruntuhan lereng disebut juga keruntuhan geologi. Faktor geologi yang dominan di antaranya adalah lereng yang terdapat pada deposit serpih dan material porous (breksi, batu pasir, dll.) yang menumpang pada lereng serpih. Selain akibat kondisi geologinya (morfologi, topografi dll). Keruntuhan lereng dapat juga terjadi akibat bentuk topografinya (cut and fill) yang merupakan hasil aktifitas keruntuhan lereng terdahulu atau terintegrasi dengan longsoran alamnya.

Beberapa lereng serpih di Indonesia yang sering mengalami pergerakan setiap tahun seperti diperlihatkan gambar di bawah ini.

Beberapa Tipe Lereng Serpih Yang Sering Mengalami Pergerakan Material
Beberapa Tipe Lereng Serpih Yang Sering Mengalami Pergerakan Material (Credit to Kementerian PUPR)

Jenis gerakan tanah/batuan atau longsoran mempunyai kecepatan yang berbeda dan jika ada media yang mengantarkannya seperti air (di Eropa ada pengaruh es) maka akan mempengaruhi percepatan pergerakannya.

Jenis gerakan tanah tanah/batuan atau longsoran sangat tergantung dari material penyusun lerengnya, apakah batuan, tanah dan kombinasi antara tanah dan batuan. Sedangkan longsoran tanah dikelompokkan menjadi butiran kasar dan butiran halus yang masing-masing menunjukkan perilaku berbeda.