Teori Perubahan Sosial Menurut Para Ahli

Untuk memahami perubahan sosial lebih mendalam, kita perlu mempelajari teori perubahan sosial menurut para ahli.

Teori perubahan sosial digunakan sebagai dasar strategi pembangunan di suatu negara. Teori-teori ini banyak dikaji oleh para ahli, antara lain Herbert Spencer, Auguste Comte, Emile Durkheim, Thorstein Veblen, dan lain-lain.

Teori Perubahan Sosial

Teori Perubahan Sosial

Beberapa teori-teori perubahan sosial adalah sebagai berikut:

1. Teori Siklus

Teori siklus melihat perubahan sebagai sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang. Apa yang terjadi pada saat ini pada dasarnya memiliki kesamaan atau kemiripan dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Dalam pola perubahan ini tidak tampak batas-batas antara pola hidup primitif, tradisional, dan modern.

Perubahan siklus merupakan perubahan yang menyerupai spiral. Pola perubahan ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Teori Siklus
Pola Perubahan Menurut Teori Siklus (Image Kun Maryati,2014)

Para penganut teori siklus melihat ada sejumlah tahap yang perlu dilalui oleh masyarakat. Tetapi, mereka berpandangan bahwa proses peralihan masyarakat tidak selesai pada tahap “akhir” yang sempurna, tetapi berputar kembali ke tahap awal untuk proses selanjutnya.

Oswald Spengler (1880-1936), seorang ahli filsafat Jerman, menyatakan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun.

Arnold Toynbee melihat bahwa peradaban muncul dari masyarakat primitif melalui suatu proses perlawanan dan respon masyarakat terhadap kondisi yang merugikan mereka. Peradaban tersebut meliputi kelahiran, pertumbuhan, kemandegan, dan disintegrasi karena pertempuran antara kelompok-kelompok dalam memperebutkan kekuasaan.

Lain halnya dengan Pitirim A Sorokin, seorang ahli sosiologi Rusia, berpendapat bahwa semua peradaban besar berada dalam siklus 3 sistem kebudayaan yang berputar tanpa akhir. Ketiga sistem kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kebudayaan ideasional (ideational culture). Kebudayaan ini berdasarkan nilai/perasaan/kepercayaan terhadap unsur supranaturan.
  2. Kebudayaan idealis (idealistic culture). Kebudayaan ini berisi kepercayaan terhadap unsur adikodrati dan rasionalitas berdasarkan fakta saling bergabung dalam menciptakan masyarakat yang ideal.
  3. Kebudayaan indrawi (sensational cultre). Dalam kebudayaan ini, hal yang dapat diindra merupakan tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

Sorokin berpendapat bahwa peradaban modern Barat merupakan peradaban yang rapuh dan tidak lama lagi akan runtuh lalu berubah menjadi kebudayaan ideasional yang baru.

Arnold Toynbee, sejarawan Inggris, juga berpendapat bahwa peradaban besar dalam siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan kematian.

2. Teori Perkembangan

Penganut Teori Perkembangan percaya bahwa perubahan dapat diarahkan ke titik tujuan tertentu, seperti perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang memiliki kompleksitas kehidupan. Masyarakat tradisional menggunakan peralatan yang terbuat dari bahan seadanya melalui proses pembuatan secara manual. Teknologi ini lalu berkembang menjadi teknologi canggih yang pada intinya bertujuan mempermudah pekerjaan manusia. Pola perubahan ini dapat diilustrasikan pada gambar dibawah ini.

Teori Perkembangan
Pola Perubahan Menurut Teori Perkembangan (Image Kun Maryati, 2014)

Teori Perkembangan juga dikenal dengan teori perkembangan atau linier. Teori Perkembangan dibagi menjadi 2 yakni teori evolugi dan teori revolusi.

Penganut teori evolusi berpandangan bahwa masyarakat secara bertahap berkembang dari level primitif/tradisional menuju level modern yang maju. Tokoh teori evolusi adalah Auguste Comte, seorang ahli Perancis, yang melihat bahwa masyarakat bergerak dalam 3 tahap perkembangan, yaitu:

  1. Tahap teologis (theological stage), dimana masyarakat diarahkan oleh nilai supernatural.
  2. Tahap Metafisik (metaphysical stage). Yaitu tahap peralihan dari kepercayaan yang didominasi unsur supernatural menuju prinsip-prinsip abstrak yang berperan sebagai dasar perkembangan budaya.
  3. Tahap positifis atau alamiah (positive stage), dimana masyarakat diarahkan oleh fakta yang didukung oleh kaidah atau prinsip ilmu pengetahuan (science).

Herbert Spencer, ahli sosiologi Perancis, berpendapat bahwa setiap masyarakat berkembang melalui tahapan yang pasti. Menurut Spencer hanya orang-orang yang cakap atau terampil yang dapat memenangkan perjuangan hidup, sementara orang-orang lemah dan pemalas akan tersisih. Tahapan perkembangan masyarakat menurut Spencer yaitu:

  1. Masyarakat sederhana.
  2. Masyarakat kompleks.
  3. Masyarakat lebih kompleks.
  4. Peradaban.

Adapun Emile Durkheim menyatakan bahwa masyarakat berkembang dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik. Solidaritas Mekanik adalah cara hidup masyarakat tradisional yang cenderung mengutamakan keseragaman sosial yang disatukan oleh ide bersama. Sedangkan solidaritas organik merupakan cara hidup masyarakat lebih maju yang berakar pada perbedaan daripada persamaan. Solidaritas mekanis bersifat informal, sedangkan solidaritas organis bersifat formal/resmi. Menurut Durkheim, masyarakat terbagi secara beragam dalam proses diferensiasi kerja.

Max Weber melalui teori evolusi berpendapat bahwa masyarakat berubah secara linear dari masyakat yang diliputi pemikiran mistik/tahayul menuju pemikiran rasional. Penganut teori revolusi, seperti Karl Marx berpandangan bahwa masyarakat berubah secara linear tapi bersifat revolusioner. Lebih lanjut Marx berpendapat bahwa masyarakat feodal akan berubah secara revolusioner menjadi masyarakat kapitalis. Jadi pada dasarnya, suatu masyarakat akan berkembang ke arah tertentu.

3. Teori Gerakan Sosial

Berdasarkan teori Gerakan Sosial, ketidakpuasan terhadap kondisi tertentu yang terjadi di masyarakat kadang menimbulkan gerakan sosial dimana banyak orang mengorganisasikan diri untuk memperjuangkan perubahan. (Sztompka, 2009).

Menurut Sztompka, gerakan sosial memiliki beberapa komponen yaitu:

  1. Adanya kolektifitas orag yang bertindak bersama.
  2. Konektivitasnya tersebar, tetapi derajatnya lebih rendah dibanding organisasi formal.
  3. Adanya tujuan bersama yaitu perubahan dalam masyarakat.
  4. Tindakannya memiliki derajat spontanitas yang tinggi, tidak melembaga dan bentuknya tidak konvensional.

Menurut Sztompka, Keterkaitan perubahan sosial dan gerakan sosial dapat dilihat dari 3 komponen yakni:

  1. Gerakan sosial memiliki tujuan dalam peradaban. Tujuan positifnya adalah memperkenalkan sesuatu yang bermanfaat (politik, budaya baru, dll). Sedangkan tujuan negatifnya adalah menghentikan atau mencegah perubahan dilihat dari pergeseran nilai.
  2. Gerakan sosial dalam hubungan yang timbal balik. Perubahan sifat yang mempengaruhi internal hingga eksternal dalam masyarakat ditimbulkan oleh adanya hubungan timbal balik.
  3. Gerakan sosial dalam berbagai status. Pertama statusnya sbeagai penyebab utama, kedua sebagai dampak atau gejala yang menyertai proses sosial, dan ketiga sebagai mediator atau sarana pembawa perubahan.

Selain itu, teori gerakan sosial juga menyatakan bahwa perubahan suatu peradaban ke peradaban lain tidak selalui dengan jalan damai. Sejarah membuktikan bahwa perubahan peradaban yang terjadi dalam masyarakat sering melalui gerakan kolektif atau gerakan sosial(Situmorang, 2007) Contoh gerakan sosial yakni gerakan buruh, gerakan petani, gerakan mahasiswa, dan lain-lain.

Berikut jenis-jenis gerakan sosial yang diklasifikasikan oleh David Aberle (Sunarto, 2004)

  1. Alternative Movement. Tujuan gerakan ini mengubah sebagian perilaku orang. Misalnya gerakan kampanye anti rokok, kampanye anti narkoba, kampanye anti minuman keras (miras), dan lain-lain.
  2. Redemptive Movement. Tujuan gerakan ini melakukan perubahan secara mnyeluruh. Contohnya Gerakan Kaum Padri di Sumatera Barat yang hendak kembali ke agama Islam dan menyingkirkan adat yang tidak sesuai dengan agama.
  3. Reformative Movement. Gerakan ini bertujuan mengubah masyarakat dilihat dari ruang lingkup segi tertentu saja. Misalnya gerakan emansipasi wanita, yaitu menuntut persamaan hak antara pria dan wanita.
  4. Transformative Movement. Gerakan ini bertujuan mengubah masyarakat secara menyeluruh. Misalnya gerakan revolusi kebudayaan China tahun 1966-1976 dibawah kepemimpinan Mao Zedong.

Sedangkan menurut Wood dan Jackson (Sztompka, 2010) keterkaitan gerakan sosial dengan perubahan sosial yaitu perubaha sosial adalah basis yang menentukan ciri-ciri gerakan sosial. Jadi gerakan sosial memiliki hubungan erat dengan perubahan sosial. Mereka mengelompokkan jenis gerakan sosial yaitu:

  1. Gerakan sosial menurut lingkup atau bidang perubahan yang diinginkan, meliputi gerakan reformasi, gerakan radikal, dan gerakan revolusi.
  2. Gerakan sosial berdasarkan kualitas perubahan yang diinginkan, meliputi gerakan progressive (sayap kiri) dan gerakan conservative (sayap kanan).
  3. Gerakan sosial berdasarkan target perubahan yang diinginkan, meliputi (1) Gerakan yang memusatkan perhatian pada perubahan struktur sosial. (2) Gerakan yang memusatkan perhatian pada perubahan perilaku seseorang secara menyeluruh.

4. Teori Modernisasi

Teori modernisasi melihat bahwa perubahan negara-negara terbelakang akan mengikuti jalan yang sama dengan negara industri di Barat. Cara tersebut yaitu melalui proses modernisasi sehingga negara terbelakang mampu menjadi negara berkembang. Teori ini melihat bahwa negara-negara terbelakang memiliki banyak kelemahan sehingga harus mengatasi kekurangan yang dimiliki untuk mencapai fase tinggal landas (take off).

Eva Etzioni-Halevy dan Amitai Etzioni berpendapat bahwa dalam amsa perubahan atau transisi, sebuah negara akan mengalami revolusi demografi dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Menurunnya angka kematian dan kelahiran.
  • Menurunnya ukuran dan pengaruh keluarga.
  • Terbukanya sistem stratifikasi.
  • Peralihan dari struktur feodal ke suatu birokrasi.
  • Menurunnya peran/pengaruh agama.
  • Beralihnya fungsi pendidikan dari keluarga/komunitas ke sistem pendidikan formal.
  • Munculnya kebudayaan massa.
  • Munculnya perekonomian pasar dan industrialisasi.

Adapun menurut Davis Lerner, modernisasi diperlukan dalam proses perubahan sosial sehingga negara yang kurang berkembang perlu meminjam dan menerapkan karakteristik dari negara manu untuk berubah menjadi engara berkembang atau mencapai tahap negara maju.

Selain itu menurut Huntington dalam tulisannya yang berjudul ‘The Change to Change’ menyatakan ciri-ciri modernisasi yaitu prosesnya berahap, homogenisasi, wujudnya berupa proses eropanisasi, amerikanisasi, atau westernisasi, jalannya selalu bergerak maju, progresif, serta memiliki jangka waktu panjang.

Baca juga:

Sumber referensi:

  • Maryati, Kun dan Suryawati, Juju. 2014 Sosiologi. Erlangga
  • Soemardjan Selo dan Soeleman Soemardi, 1974, Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta, Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Soerjono Soekanto, 2003. Judul Buku : Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.
  • Wrahatnala, Bondet. 2009. Sosiologi. Departemen Pendidikan Nasional

Demikian penjelasan lengkap mengenai teori perubahan sosial menurut para ahli. Kini anda diharapkan sudah memahi hakekat perubahan sosial setelah mempelajari teori-teori perubahan sosial.